INDONESIABRIEF.COM, BULELENG — Malam di Pulau Menjangan selama ini punya cerita yang berbeda.
Ketika matahari tenggelam, kegelapan bukan satu-satunya persoalan bagi para ranger yang bertugas di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Ada suara mesin genset yang harus dinyalakan. Ada BBM yang harus tersedia.
Dan ada satu kecemasan yang selalu mengikuti: bagaimana jika bahan bakar habis sementara tugas penjagaan masih harus berlangsung?
“Kalau BBM-nya habis, ya sudah tidak ada listrik. Cari BBM juga harus menyeberang ke Pulau Utama, atau menunggu jadwal aplusan/shift,” ujar I Komang Suartawan, Ranger TNBB Pos Menjangan.
Kondisi itu berlangsung bukan sehari dua hari.Menurut Komang, kebutuhan listrik di Pos Ranger Pulau Menjangan sebelumnya sangat bergantung pada genset dan ketersediaan bahan bakar. Untuk operasional, konsumsi BBM bisa mencapai sekitar 20 liter per hari.
Ketika listrik tersedia, para petugas memang bisa bekerja.Tetapi ada harga lain yang harus dibayar.
Suara mesin
Bagi manusia mungkin hanya mengganggu kenyamanan. Namun di tengah kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai satwa, kebisingan itu menjadi persoalan tersendiri.
“Dulu, sebelum ada panel surya, listrik itu bisa saja hidup dari jam 7 malam sampai pagi, tapi ya itu, pakai genset, berisik dan ganggu hewan Menjangan sekitar, dan butuh BBM banyak,” kata Komang.
Kini, suasana itu perlahan berubah.Bukan karena genset diperbaiki.Melainkan karena sumber listriknya diganti.
Matahari Menggantikan 20 Liter BBM Setiap Hari
AVIRAMA Foundation secara resmi menyelesaikan tahap commissioning instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off-Grid di Pos Ranger Pulau Menjangan.Program bernama Solar Horizon Menjangan tersebut dirancang untuk menjawab persoalan energi di wilayah konservasi yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN. Sistem yang dibangun memiliki kapasitas pembangkitan 5,5 kWp dengan penyimpanan baterai LiFePO4 berkapasitas 12 kWh.
Sederhananya, energi matahari yang ditangkap panel pada siang hari disimpan ke dalam baterai untuk digunakan ketika malam tiba.Dengan sistem tersebut, pos ranger tidak lagi harus menggantungkan kebutuhan listriknya pada genset berbahan bakar fosil.Yang sebelumnya membutuhkan hingga 20 liter BBM setiap hari, kini mulai digantikan oleh energi matahari.Dan perubahan itu bukan sekadar soal tagihan atau penghematan bahan bakar.Di Pulau Menjangan, energi bersih bersentuhan langsung dengan kehidupan para penjaga konservasi.
Ketika Genset Mengganggu Penjaga dan Satwa
Afdha Kharis, Ranger TNBB Pos Menjangan, merasakan persoalan tersebut dari sisi yang berbeda.Bagi petugas yang bekerja di kawasan terpencil, listrik bukan kemewahan.Komunikasi sangat penting.Handphone harus tetap bisa digunakan. Perangkat komputer juga dibutuhkan. Namun untuk menghidupkan berbagai perangkat tersebut, mereka kembali berhadapan dengan persoalan BBM.
“Dulu saat kelistrikan listrik, kita sangat kurang dalam hal komunikasi. Kami butuh BBM lebih banyak untuk hidupin genset hanya untuk charge handphone untuk komunikasi antar tim yang sedang patroli,” kata Afdha.
Namun yang paling mengganggunya justru bukan hanya persoalan teknis. Suara genset, menurut Afdha, bisa sangat bising.Terlebih kawasan tersebut merupakan habitat satwa yang sensitif terhadap suara.
“Dampak penggunaan genset ini paling berdampak adalah polusi suaranya yang sangat bising, ini mengganggu satwa endemik seperti menjangan dan khususnya satwa yang sensitif terhadap suara seperti kelelawar,” ujarnya.
Pada malam hari, suara mesin yang terus bekerja bahkan bisa mengganggu waktu istirahat.
“Ketika genset bersuara dengan bising, ini mengganggu jam tidur dari satwa Menjangan/Rusa, sehingga menggeser habitat utama dari Menjangan itu sendiri yang sebelumnya ada di sekitar Post Ranger,” lanjutnya.
Di titik inilah proyek PLTS tersebut memiliki makna yang lebih besar.Listrik tidak lagi hanya menerangi ruangan. Ia ikut menjaga ketenangan habitat.
Membawa Panel Surya ke Pulau Bukan Perkara Mudah
Namun menghadirkan energi matahari ke sebuah pulau terpencil tentu bukan pekerjaan yang sederhana.Pak Catur, teknisi pemasangan panel surya dari Batari Energy mengatakan, tantangan sudah muncul sejak tahap mobilisasi.Peralatan yang dibutuhkan untuk instalasi tidak sedikit. Sementara akses menuju Pulau Menjangan memiliki keterbatasan.
“Bawa komponen panel surya itu ternyata mobilisasi yang sulit karena keterbatasan peralatan kita di Pulau,” ungkapnya.Persoalan berikutnya muncul saat proses instalasi.Para teknisi harus memperhatikan kondisi cuaca, waktu kunjungan wisatawan hingga keamanan perangkat setelah terpasang.
“Kondisi terik panas matahari, dan keterbatasan logistik menjadi kendala teknis utama pada pemasangan solar panel ini,” katanya.
Bahkan proses instalasi tidak bisa dilakukan sembarangan.Tim harus memperhatikan jam kunjungan wisatawan agar pekerjaan tidak mengganggu aktivitas di kawasan tersebut.Mereka juga melakukan pengawasan untuk mengantisipasi kemungkinan perangkat rusak akibat tersenggol atau tertabrak.Semua tantangan itu akhirnya bisa dilalui.
Proyek yang diawali dengan site survey pada Maret 2026 tersebut rampung pada akhir Juli 2026.Mobilisasi perangkat berat melalui Pelabuhan Labuan Lalang pun dapat diselesaikan dengan aman melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Balai TNBB, tim teknis, komunitas pemandu wisata hingga relawan lokal.
Bukan Sekadar Panel Surya
Bagi Gede Herry Arum Wijaya, Direktur AVIRAMA Foundation, gagasan Solar Horizon Menjangan sebenarnya lahir dari kegelisahan yang sangat sederhana.Ketika pertama kali datang ke Pulau Menjangan, ia mendengar suara genset.Suara itu kemudian memunculkan pertanyaan: mungkinkah kebutuhan listrik di kawasan konservasi dipenuhi tanpa harus terus bergantung pada mesin berbahan bakar fosil?
“Program kami ini bertujuan untuk memberikan akses listrik bersih ke Pulau Menjangan. Saat pertama kali saya dulu ke Pulau Menjangan, saya mendengar suara berisik dari genset ini, dan saya berpikir, masa iya pulau yang termasuk wilayah konservasi tapi pakai genset yang berisik dan ganggu hewan di area ini,” tutur Herry.
Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi sebuah program.AVIRAMA Foundation membawa Solar Horizon Menjangan ke ajang Youth4Climate 2025 yang diselenggarakan UNDP Rome Centre bersama Ministry of Energy Security and Environment Italia.
Hasilnya, program tersebut berhasil masuk dalam 50 proyek global terbaik Youth4Climate 2025.Kini, proyek itu tidak lagi berhenti sebagai gagasan di atas kertas.Panel-panel surya sudah terpasang.Baterai sudah tersedia.Dan energi matahari mulai mengambil alih peran genset.
Pos Ranger Kini Bisa Menyala 24 Jam
Dampaknya langsung dirasakan para petugas.PLTS tersebut memungkinkan penerangan pos dan dermaga tersedia 24 jam, tanpa risiko terputus akibat kehabisan BBM.Kondisi itu sangat penting bagi petugas yang menjalankan fungsi pengawasan dan konservasi, termasuk dalam mendukung pencegahan aktivitas illegal fishing.
Kehidupan sehari-hari para ranger juga menjadi lebih nyaman. Fasilitas seperti kulkas kini bisa digunakan untuk menyetrika malang bahan makanan selama masa shift penjagaan yang berlangsung sekitar 4 hari.Tidak ada lagi suara genset yang terus meraung ketika malam tiba. Tidak ada lagi ketergantungan mutlak terhadap jadwal pasokan BBM. Dan yang tak kalah penting, lingkungan sekitar pos mendapatkan manfaat dari berkurangnya polusi suara dan emisi gas rumah kaca.
Dari Satu Pulau untuk Pulau-Pulau Lain
Herry menyebut keberhasilan di Pulau Menjangan bukan tujuan akhir. Justru sebaliknya, Menjangan diharapkan menjadi contoh bahwa transisi menuju energi bersih juga bisa dilakukan di wilayah-wilayah terpencil. AVIRAMA Foundation, katanya, sebelumnya telah menargetkan 50 proyek terpilih dalam program. YouthClimate dan tahun ini mulai mengimplementasikan program tersebut.
“Harapannya dengan adanya panel Surya ini, pos ranger ini dapat menjadi lebih baik dalam hal keselamatan dan penunjang hidup serta pekerjaannya seperti kulkas, internet, dan komputer,” imbuhnya.
Ia ingin model serupa direplikasi di kawasan remote lainnya di Indonesia.
“Program Solar Horizon Menjangan bukan sekadar tentang menyediakan listrik, melainkan membangun pondasi keberlanjutan. Kawasan konservasi harus menjadi contoh terdepan dalam penggunaan teknologi Hijau,” tegas Herry.
Menurutnya, energi bersih tidak semestinya hanya menjadi isu kota-kota besar. Lebih dari itu, justru wilayah terpencil yang selama ini paling bergantung pada energi fosil perlu mendapatkan perhatian yang sama.Melalui proyek tersebut, menurutnya, AVIRAMA Foundation optimistis manfaat ya dapat meluas, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
“Kami optimistis bisa memberikan multiplier effect bagi kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat lokal dan mengakselerasi pencapaian target Bali Net Zero Emission 2045,” ujarnya.
Pada akhirnya, perubahan di Pulau Menjangan mungkin terlihat sederhana. Beberapa panel Surya berdiri. Baterai menyimpan energi. Lampu menyala. Kulkas berkeja. Internet dan komputer bisa digunakan. Akan tetapi bagi penggemar ranger yang selama ini hidup berdampingan dengan suara genset dan ketidakpastian BBM, perubahan itu jauh lebih berarti.
Malam di Pulau Menjangan kini Tetap Terang, Tanpa Harus Berisik. Dan untuk sebuah kawasan konservasi, mungkin itulah cara paling sederhana untuk mengatakan bahwa energi bersih dan alam ternyata bisa hidup berdampingan.