INDONESIABRIEF.COM, BULELENG — Panel surya pernah hadir di Pulau Menjangan. Namun teknologi itu tidak bertahan seperti yang diharapkan. Bukan karena energi matahari tidak bisa diandalkan, melainkan karena para pengelolanya ketika itu belum memahami cara mengoperasikan dan merawat perangkat tersebut.
Akibatnya, kerusakan berulang membuat para ranger sempat trauma setiap kali berhadapan dengan teknologi baru.Pengalaman itulah yang kini coba diputus melalui program Solar Horizon Menjanga yang digagas *AVIRAMA Foundation. Setelah memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off-Grid di Pos Ranger Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat (TNBB), AVIRAMA tidak berhenti pada penyerahan teknologi.
Para ranger justru dibekali kemampuan untuk merawat dan mengoperasikannya secara mandiri.Pelatihan Operation and Maintenance (O&M) digelar pada 26 Juli 2026 dan diikuti 13 personel yang menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan.Mereka terdiri atas ranger Pos Menjangan dan Pos Teluk Berumbun, Polisi Kehutanan (Polhut), Manggala Agni, operator teknis, serta staf Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II dan III.
Kepala Resor Menjangan Ahmad Dimyati mengatakan, pengalaman masa lalu menjadi alasan mengapa pembekalan teknis sangat dibutuhkan.
“Dulu, kami sempat pasang panel surya, tapi selalu rusak karena kami tidak paham teknologinya dan bagaimana cara merawatnya,” kata Dimyati.
Pengalaman itu membuat para petugas menjadi lebih berhati-hati. Sebaliknya, bahkan cenderung takut ketika kembali mendapatkan perangkat dengan teknologi baru.
“Karena kejadian tersebut, jadi setiap ada teknologi baru, kami jadi takut untuk mengoperasikan,” ujarnya.
Bukan Sekadar Diberi Panel Surya
Kondisi tersebut menjadi pembeda utama program AVIRAMA Foundation.Dalam Solar Horizon Menjangan, pembangunan PLTS tidak diposisikan sebagai proyek yang selesai ketika panel dan baterai telah terpasang.Transfer teknologi berjalan bersamaan dengan transfer pengetahuan.
“Program dari AVIRAMA ini sangat bagus, karena tidak hanya memberikan panel surya, tapi juga pelatihan teknis kepada kami ranger di Menjangan untuk bagaimana merawatnya, pengetahuan dasar teknis, serta jika ada kendala langkah apa yang harus diambil,” tutur Dimyati.
Menurut dia, pelatihan tersebut membuat para ranger lebih percaya diri untuk menggunakan sistem PLTS yang kini terpasang di Pos Menjangan.
“Pokoknya pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami. Sekarang kami berani mengoperasikannya,” katanya.
PLTS yang dibangun memiliki kapasitas 5,5 kWp dengan baterai LiFePO4 berkapasitas 12 kWh.Sistem tersebut dihadirkan untuk mengurangi hingga menghentikan ketergantungan pos terhadap genset berbahan bakar fosil.Sebelumnya, operasional pos dapat menghabiskan sekitar 20 liter BBM per hari, sekaligus menghasilkan polusi suara dan emisi.
Ranger Belajar Menghadapi Gangguan Sejak Awal
Perwakilan tim Batari Energy, Aqil mengatakan, pelatihan O&M merupakan bagian penting dari keberlanjutan sebuah instalasi PLTS, terutama di lokasi terpencil seperti Pulau Menjangan.Menurutnya, persoalan teknis sederhana sangat mungkin muncul setelah sebuah sistem selesai dipasang. Tanpa pengetahuan dasar, pengguna bisa panik ketika menghadapi gangguan.
“Kegiatan training ini digagas oleh AVIRAMA Foundation dengan bekerja sama dengan kami selaku tim dari Batari Energy merupakan ide yang bagus,” ujar Aqil.
Ia menjelaskan, pengguna tidak selalu harus langsung menunggu teknisi ketika terjadi persoalan.Setidaknya, mereka perlu mengetahui cara melakukan monitoring, perawatan rutin, serta langkah pertama yang harus dilakukan ketika sistem mengalami gangguan.
“Sering kali setelah pemasangan panel surya kendala-kendala mendasar akan terjadi, dan pemilik yang kurang paham akan panik dan kebingungan. Dengan adanya training ini, diharapkan dapat memberikan setidaknya pengetahuan dasar dan langkah pertama dalam hal monitoring, perawatan, dan perbaikan,” jelasnya.
Dengan kemampuan tersebut, persoalan kecil diharapkan dapat segera dikenali sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
AVIRAMA: Kemandirian Lebih Penting daripada Teknologinya
Sementara Direktur AVIRAMA Foundation, Gede Herry Arum Wijaya menegaskan, pelatihan tersebut memang sejak awal dirancang sebagai bagian dari Solar Horizon Menjangan.
Menurut Herry, memberikan perangkat energi bersih saja tidak otomatis menciptakan kemandirian energi.Justru orang yang mengoperasikan perangkat tersebut harus memiliki kemampuan untuk menjaga keberlangsungannya.
“Kegiatan training ini merupakan serangkaian program Solar Horizon Menjangan. Jadi program kami tidak hanya menghibahkan sebuah teknologi, tapi juga membekali garda terdepan yang akan mengoperasikannya dengan pengetahuan dasar dan skill untuk mengoperasikan dan merawat perangkat PLTS ini,” kata Herry.
Ia bahkan menilai transfer pengetahuan tersebut memiliki nilai yang lebih penting dibandingkan perangkat yang diberikan.
“Justru ini lebih penting daripada hanya sekadar teknologi, sehingga transisi energi benar-benar bisa menciptakan kemandirian energi,” tegasnya.
Bagi Herry, mandiri berarti penerima manfaat tidak terus-menerus bergantung kepada pihak luar.
“Mandiri berarti tidak bergantung pada pihak lain, alias mampu berdiri sendiri,” ujarnya.
Karena itu, kata dia, AVIRAMA tidak akan langsung meninggalkan lokasi setelah proyek selesai.Herry mengatakan pihaknya tetap akan melakukan monitoring dan kunjungan untuk melihat perkembangan penggunaan PLTS sekaligus memberikan pendampingan apabila dibutuhkan.
“Ke depannya, kami akan tetap melakukan monitoring dan kunjungan untuk memantau dan mendampingi tim di lapangan,” katanya.
Dari Menjangan untuk Daerah Terpencil Lainnya
Lebih lanjut kata Herry, AVIRAMA Foundation berharap, pendekatan yang diterapkan di Pulau Menjangan dapat menjadi contoh bagi proyek energi bersih di wilayah terpencil lainnya.
“Pembangunan PLTS seharusnya tidak hanya dihitung dari berapa banyak panel yang berhasil dipasang atau berapa besar kapasitas listrik yang dihasilkan,” imbuh Herry.
Dikatakannya, bahkan ada ukuran lain yang tidak kalah penting: apakah masyarakat atau kelompok penerima manfaat mampu menjaga teknologi tersebut tetap hidup? Karena itu, model yang menggabungkan pembangunan infrastruktur, transfer pengetahuan, pelatihan teknis dan pendampingan tersebut diharapkan dapat direplikasi dalam berbagai program serupa.
“Harapannya, konsep ini dapat direplikasi oleh program atau inisiatif serupa di daerah lain dengan menekankan transfer knowledge dan peningkatan skill kelompok atau komunitas setempat yang menjadi penerima manfaat,” pungkas Herry.
Bagi para ranger di Pulau Menjangan,menurut Herry, perubahan itu mungkin sederhana. Itu dikarenakan dulu mereka takut mengoperasikan panel surya karena pernah melihatnya rusak.Kini mereka justru belajar bagaimana memastikan teknologi tersebut tetap bekerja.
“Sebab energi bersih tidak akan benar-benar berkelanjutan hanya karena panelnya mampu menangkap cahaya matahari. Ia baru benar-benar berkelanjutan ketika orang yang menerimanya mampu merawat dan menjaganya tetap menyala,” tandasnya.