Asal Usul Nama Serang: Benarkah Lebih Tua dari Kesultanan Banten?
Oleh: Khoirul Umam Sonhadji
Pemerhati sejarah Islam dan sejarah Banten pada Kum Nusantara Institute.
Ketika mendengar nama Serang, kebanyakan orang akan langsung menghubungkannya dengan Kesultanan Banten. Hal ini wajar, mengingat Kota Serang berada di jantung wilayah yang pernah menjadi pusat salah satu kesultanan terbesar di Nusantara. Namun sebuah pertanyaan menarik layak diajukan: apakah nama Serang lahir setelah Kesultanan Banten berdiri, atau justru telah ada jauh sebelumnya?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya dapat membawa kita menelusuri lapisan sejarah yang lebih tua daripada masa kejayaan Kesultanan Banten. Sebab dalam banyak kasus di Nusantara, kerajaan atau kesultanan tidak menciptakan nama wilayah dari nol. Mereka justru mewarisi nama-nama tempat yang telah digunakan oleh masyarakat sebelumnya. Jika demikian, mungkinkah nama Serang juga berasal dari masa yang lebih tua?
Serang dan Ingatan tentang Hamparan Sawah
Salah satu penjelasan yang berkembang di masyarakat mengaitkan nama Serang dengan kondisi alamnya pada masa lampau. Dalam tradisi lisan yang masih hidup di kalangan masyarakat Banten, terdapat kisah yang menghubungkan nama Serang dengan ucapan Sunan Gunung Jati yang merujuk wilayah ini sebagai kawasan persawahan yang luas dan subur.
Jika melihat kondisi Serang hingga beberapa dekade lalu, cerita tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Sebelum berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kawasan perkotaan, sebagian besar wilayah Serang merupakan hamparan sawah yang membentang luas. Kehidupan masyarakat bertumpu pada pertanian, sementara sungai-sungai yang mengalir di wilayah ini menjadi sumber pengairan yang penting.
Dalam tradisi Nusantara, penamaan wilayah berdasarkan karakter alam merupakan hal yang lazim. Banyak daerah memperoleh namanya dari gunung, sungai, tumbuhan, maupun kondisi geografis tertentu. Karena itu, tidak mengherankan apabila identitas Serang juga pernah dikaitkan dengan bentang alam agraris yang menjadi ciri khasnya.
Serang sebagai Tempat Berkumpulnya Berbagai Kelompok
Selain dikaitkan dengan sawah, terdapat pula cerita rakyat yang menyebut bahwa nama Serang berasal dari kata se-erang, yang berarti seikat, sekumpulan, atau sekelompok.
Penafsiran ini menarik karena sesuai dengan karakter sejarah wilayah Banten. Sejak lama kawasan ini menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat. Pedagang, ulama, petani, pelaut, bangsawan, dan pendatang dari berbagai daerah datang dan berinteraksi di wilayah ini. Orang Sunda, Jawa, Melayu, Arab, Tionghoa, dan berbagai komunitas lainnya turut memberi warna pada kehidupan masyarakat Banten.
Dalam konteks tersebut, Serang dapat dipahami sebagai simbol pertemuan berbagai kelompok manusia yang kemudian membentuk satu masyarakat. Nama itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan gambaran mengenai proses sosial yang berlangsung selama berabad-abad.
Kaujon dan Jejak Permukiman yang Lebih Tua
Jika ingin menelusuri kemungkinan bahwa nama Serang lebih tua daripada Kesultanan Banten, kita perlu memperhatikan kawasan-kawasan tua yang ada di sekitarnya. Salah satu yang menarik adalah Kaujon.
Di kalangan masyarakat Serang, Kaujon dikenal sebagai kawasan para ulama dan bangsawan. Di wilayah ini masih dapat ditemukan makam-makam tua, masjid kuno, serta bangunan peninggalan kolonial. Letaknya pun sangat strategis karena berada di sekitar pusat pemerintahan lama dan dilalui oleh Sungai Cibanten.
Asal-usul nama Kaujon sendiri memiliki beberapa versi. Versi yang paling populer menyebut bahwa nama tersebut berasal dari seorang ulama bernama Ki Uju, yang makamnya hingga kini masih terjaga di kawasan tersebut. Ada pula yang menghubungkannya dengan tokoh bernama Ki Mas Jong. Kedua nama itu dianggap memiliki kedekatan bunyi dengan kata Kaujon.
Namun terdapat penafsiran lain yang menarik dari sudut pandang linguistik. Nama Kaujon diduga berasal dari bentuk ka-uju-an, yang berarti “tempatnya para Uju”. Pola penamaan semacam ini lazim ditemukan pada kampung-kampung tua di wilayah Banten, seperti Kaibon, Karaton, Kasepuhan, Kadipaten, Kasemen, dan lain-lain. Jika penafsiran ini benar, maka nama Kaujon bisa jadi jauh lebih tua daripada tokoh Ki Uju sendiri.
Bahkan muncul kemungkinan bahwa “Uju” bukan sekadar nama orang, melainkan sebuah gelar atau kelompok sosial tertentu yang telah dikenal masyarakat sejak lama. Jika demikian, maka Kaujon merupakan petunjuk mengenai struktur sosial yang sudah ada sebelum lahirnya Kesultanan Banten.
Sungai Cibanten dan Jalur Perdagangan Lama
Posisi Kaujon semakin menarik karena berada di sekitar Sungai Cibanten, sungai yang sejak lama menjadi jalur transportasi penting di wilayah Banten.
Berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa Sungai Cibanten tidak hanya digunakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga dilalui para pedagang yang menghubungkan kawasan pesisir dengan pedalaman. Bahkan terdapat catatan mengenai pedagang Tionghoa yang memanfaatkan jalur sungai ini untuk mengirimkan barang dagangan ke berbagai wilayah di pedalaman Banten.
Keberadaan jalur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa kawasan sekitar Sungai Cibanten telah menjadi ruang interaksi ekonomi sejak lama. Melalui sungai inilah hasil pertanian, kebutuhan sehari-hari, serta berbagai komoditas perdagangan bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Jika suatu wilayah telah menjadi pusat aktivitas ekonomi sebelum berdirinya Kesultanan Banten, maka bukan tidak mungkin nama-nama tempat yang ada di sekitarnya juga telah dikenal lebih dahulu.
Misteri Kaujon Pasar Sore
Salah satu bagian menarik dari kawasan Kaujon adalah wilayah yang dikenal dengan nama Kaujon Pasar Sore.
Nama ini menimbulkan pertanyaan sederhana tetapi penting: mengapa disebut Pasar Sore?
Dalam tradisi masyarakat Nusantara, nama pasar sering kali berkaitan dengan waktu operasionalnya. Karena itu, sangat mungkin dahulu pernah terdapat pasar yang aktif menjelang sore hari di kawasan tersebut. Keberadaan pasar menjadi masuk akal mengingat letaknya yang dekat dengan Sungai Cibanten, jalur perdagangan yang ramai pada masanya.
Pasar bukan hanya tempat transaksi ekonomi. Ia juga menjadi titik pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Pedagang dari luar daerah, petani dari pedalaman, nelayan, ulama, hingga pejabat pemerintahan dapat bertemu dalam satu ruang yang sama. Jika teori se-erang dimaknai sebagai kumpulan berbagai kelompok manusia, maka pasar merupakan representasi yang sangat nyata dari makna tersebut.
Sebuah Hipotesis tentang Nyi Mas Serang
Dalam pencarian pribadi mengenai asal-usul nama Serang, penulis juga memperoleh pengalaman spiritual yang mengarah pada sosok yang dikenal sebagai Nyi Mas Serang. Pengalaman tersebut muncul beberapa kali ketika melintasi kawasan Kaujon Pasar Sore, tepatnya di lokasi yang menurut penuturan masyarakat dahulu terdapat pohon beringin besar sebelum kawasan itu berubah menjadi deretan pertokoan.
Berdasarkan pemahaman yang muncul dari pengalaman tersebut, penulis menduga bahwa Nyi Mas Serang adalah sosok yang sama dengan Nyi Subang Larang, istri Prabu Siliwangi. Karena melintasi area tersebut, selalu terlintas Nyi Mas Serang. Dan ketika dilihat lebih dalam pada vision masa lalu tersebut, yang muncul adalah Nyi Mas Serang adalah julukan bagi Nyi Mas Subang Larang.
Dalam tradisi sejarah Sunda, Nyi Subang Larang dikenal sebagai ibu dari tiga tokoh penting: Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Rara Santang, dan Raden Kian Santang. Dari garis keturunan Nyi Mas Rara Santang lahirlah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, tokoh yang memiliki peranan besar dalam perkembangan Islam di Jawa Barat dan Banten.
Tentu saja hipotesis ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan tidak dapat diposisikan sebagai fakta sejarah yang telah terbukti. Namun sebagai bagian dari tradisi pencarian sejarah lokal, pengalaman spiritual dapat menjadi titik awal untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru yang kemudian diuji melalui tradisi lisan, kajian toponimi, maupun penelitian sejarah yang lebih mendalam.
Menemukan Kembali Jejak yang Terlupakan
Hingga hari ini belum ada jawaban tunggal yang dapat menjelaskan secara pasti asal-usul nama Serang. Ada yang mengaitkannya dengan sawah yang luas, ada yang memaknainya sebagai kumpulan berbagai kelompok masyarakat, dan ada pula kemungkinan bahwa nama tersebut menyimpan jejak tokoh atau peristiwa yang kini telah terlupakan oleh sejarah.
Namun satu hal yang menarik untuk direnungkan adalah kenyataan bahwa banyak unsur penting di wilayah Serang—seperti Kaujon, Sungai Cibanten, jalur perdagangan lama, dan tradisi masyarakat setempat—tampaknya memiliki akar sejarah yang lebih tua daripada Kesultanan Banten itu sendiri.
Jika dugaan tersebut benar, maka nama Serang mungkin bukan lahir dari Kesultanan Banten, melainkan diwarisi oleh kesultanan tersebut dari masyarakat yang telah lebih dahulu hidup dan membangun peradaban di wilayah ini.
Mungkin kita belum mengetahui siapa yang pertama kali menyebut nama Serang. Namun berbagai jejak yang masih tersisa memberi isyarat bahwa nama itu menyimpan sejarah panjang yang belum sepenuhnya terungkap. Dan bisa jadi, sejarah tersebut membawa kita jauh ke masa sebelum berdirinya Kesultanan Banten yang kita kenal hari ini.
Tentang Penulis
Khoirul Umam Sonhadji adalah pemerhati sejarah Islam dan sejarah Banten. Melalui Kum Nusantara Institute, ia menaruh perhatian pada kajian sejarah lokal, tradisi lisan, toponimi, manuskrip, dan pendekatan sejarah-spiritual dalam menelusuri jejak peradaban Nusantara.
