
Oleh; Khoirul Umam Sonhadji
Sebuah ilmu pengetahuan tidak bisa dikatakan ilmiah bila tidak ditemukan beberapa syarat atau indikator. Diantaranya ilmu pengetahuan yang diperoleh harus secara sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya, terstruktur prosedurnya, metode yang digunakan terukur, tekniknya benar, dan tidak bersifat acak. Kemudian diakhiri dengan verifikasi atau dapat diuji kebenarannya.
Selain itu, sebuah ilmu pengetahuan bisa disebut ilmiah bila itu masuk akal (logis) dan bisa dibuktikan serta dipertanggungjawabkan melalui eksperimen atau dalam ilmu pengetahuan sejarah harus ada fakta atau bukti-bukti sejarah (evidence).
Selain itu, dalam konteks ilmu sejarah, dalam proses penelitan dan penulisannya juga dibutuhkan berbagai pendekatan keilmuan seperti pendekatan ilmu politik, antropologi, sosiologi, psikologi, filologi, etnologi, dan linguistik, dan lain-lain.
Namun, dalam perkembangannya, berbagai fenomena baru bermunculan seperti dalam pengungkapan sejarah wali atau kewalian. Dalam konteks ini misalnya, Abdurrahman atau biasa disapa Gusdur—mantan presiden ke empat Indonesia—dalam beberapa catatan sering disebut bahwa Gusdur kerap mengungkap makam-makam wali yang jarang diketahui masyarakat sekitar tempat lokasi makam wali itu ada.
Lantaran hal itu, salah satu sahabat Gusdur, yaitu AS Hikam menyebut Gusdur sebagai seorang yang meriwayatkan kuburan sebagaimana dalam tulisannya yang terbit di alif.id dengan judul Ketika Gusdur Meriwayatkan Sebuah Kuburan.
Wahfiyul Ahdi bahkan dalam tulisannya yang juga terbit di alif.id menyebut Gusdur sebagai seorang ‘arkeolog’ kuburan. Ini lantaran Gusdur merupakan seorang yang spesialis menemukan makam atau kuburan para tokoh besar yang kuno dan hampir tidak dikenali oleh siapapun termasuk masyarakat yang tinggal di lokasi makam kuno yang ditemukan oleh Gusdur.
Beberapa makam yang pernah ditemukan oleh Gusdur diantaranya Syekh Jumadil Kubro yang di Trowulan, Mojokerto. Kemudian makam Joko Tingkir di Lamongan, dan makam Gajah Mada serta Raden Wijaya di Bengkulu, dan tentunya masih banyak lagi.
Dalam konteks keilmuan sejarah, terutama sejarah Islam, maka sudah semestinya ada penambahan pendekatan baru yaitu pendekatan spiritual untuk bisa mengungkap sebuah sejarah ternyata bisa digunakan. Hal ini tidak hanya terjadi pada Gusdur saja.
Seorang ulama yang juga seorang habaib, yaitu Habib Luthfi bin Yahya juga melakukan hal yang sama seperti Gusdur. Sering mengungkap makam-makam wali yang sebelumnya masyarakat tidak tahu kemudian akhirnya menjadi tahu.
Seperti yang terjadi pada saat penemuan belasan makam kuno di belakang Masjid Baitul Makmur di alun-alun Purwodadi. Dari pencarian, penelusuran, dan penggalian makam ada beberapa diantaranya yang usianya sudah ratusan tahun.
Makam-makam tersebut sebelumnya terkubur tanah dengan kedalaman satu meter. Setelah dicari keberadaanya ditemukan beberapa makam. Mulai makam sejak abad 6 hingga abad 16 Masehi. Bentuk makam masih asli berupa nisan bentuk kotak dari batu berwarna kuning. Batu tersebut dipahat sedemikian rupa sehingga membentuk kijing makam.
Ahmad Sambung Khoironi, tokoh agama Grobogan mengatakan, pencarian makam itu berawal dari perintah dari Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan. Dirinya mendapatkan amanat tersebut, kemudian melakukan penggalian informasi tentang makam situs kuno dari para pendahulu dan pahlawan di Kabupaten Grobogan.( https://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/02)
Pada kesempatan yang lain, Habib Luthfi bin Yahya juga pernah membantu seorang mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dalam mengungkap dan melakukan penelitian sejarah kewalian bahkan sampai diterbitkan karya tugas akhirnya (thesis) menjadi buku.
Namun sayang, referensi tersebut, websitenya justru kini sudah tidak aktif. Informasi itu terdapat pada situs http://pps.uin-suka.ac.id/id. Namun sayang, kini sudah tidak bisa dibuka lagi. Entah mengapa.
Dengan melihat dua contoh tokoh ulama besar tersebut kaitannya dengan kontribusi mereka dalam pendekatan baru dalam mengungkap sejarah, terutama sejarah para wali, maka cukup relevan bila pendekatan spiritual ini didorong dan dipatenkan menjadi sebuah metodologi baru dalam mengungkap sebuah sejarah. Sejarah Islam pada umumnya, dan sejarah kewalian khususnya.
Hal ini tentu akan memperkaya khasanah keilmuan Islam, khususnya metodologi keilmuan sejarah Islam.
Penulis adalah pemerhati Sejarah dan Peradaban pada KUM Nusantara Institut